Tuesday, May 30, 2006

Kilasan Cinta

Cinta? Sebentuk kata yang tetep saja mengguncangkan dunia, sedari masa Adam-Hawa, Yusuf- Zulaikha, Samson-Delailah, Romeo –Juliet sampai masanya Cinta dan Rangga. Cerita cinta memeng penuh romantika hingga tak lekang diperjalanan masa. Ia mendorong penakut menjadi pemberani, orang kikir menjadi dermawan, mencuci pikiran orang yang dengki, memfasihkan lidah orang gagap, membangkitkan keinginan orang yang lemah, merendahkan kehormatan raja, menampakan kehebatan para pemberani, gejolak menjadi tenang, akhlak kepribadian menjadi tertata, ada kegembiraan yang menari-nari didalam jiwa dan kesenangan yang bersemayam didalam hati. Ya, cinta? Apapun kisahnya, tetap segar dihadapan mata.

Menghindari Cinta?
Abu Naufal pernah ditanya: "Apakah seseorang bisa menghindar dari cinta?" Dia menjawab,"Bisa, yaitu orang yang hatinya keras dan bodoh, yang tidak memeiliki keutamaan dan pemahaman. Sekalipun seseorang hanya memiliki sedikit kepandaian, kehalusan penduduk Hizaz dan kepintaran penduduk Iraqi, tidak mungkin bisa menghindar dari cinta"

Cinta, suatau rasa yang tak pernah mungkin didusta, ia akan selalu mengiringi perjalanan setiap manusia. Ia hadir disetiap hembuasan nafas, melantunkan nada-nada indah yang senantiasa dinantikan. Bisasaja seseorang mengatakan pada seluruh dunia bahwa ia tidak pernah jatuh cinta, namun hatinya takkan pernah sepi dari rasa rindu, kecemasan ingin bejumpa, ketakutan ditinggalkan, maupun kebahagiaan yang menyeruak tatkala sinyal-sinyal cinta mulai berdenyut didalam dada. Cinta adalah gejolak yang bisa ditampilkan pada segenap dunia ataupun dikubur dipendam di jurang sukma terdalam, namun ia akan selalu ada, tak akan pernah tiada.

Perjalanan Cinta,
Cinta yang pertama kali mengarkan hati
Ia datang bersama takdir berjalan beriringan
Jika pemuda berenang di samudra cinta tak bertepi
Datang banyak masalah yang tak tertangguhkan
Siapa yng sanggup memilkul cinta dihati
Bencana datang bersama rahasia-rahasianya.
Permulaan cinta indah menawan hati
Akhirnya kematian laksana permainan
Ia bermula dari pandangan dan canda
Menjalar dihati laksana bara api
Seperti api yang bermula dari percikan
Jika membesar ia akan membakar semua kayu.


Begitualah syair-syair para pecinta ketika menggambarkan cintanya. Suatu kata yang begitu bebas merdeka namun kini semakin terpasung didalam keangkuhan nafsu manusia. Dengan cinta semestinya kedamaian yang tercipta, namun manakalassyhawat yang berkuasa hanya derita yang kan tersisa.

Kemanakah Cinta Engkau Persembahkan?
Apakah cinta sucimu hanya kau persembahkan pada dunia. Apapun bentuknya, kekasih yangbegitu jelita, keluarga yang penuh kehangatan, teman tempat berbagi cerita, harta yang berlimpah, jabatan yang tertinggi, tak ada yang berhak mendapatkan cinta sebelum kau persembahkan kepada yang haq, Sang Pencipta, penebar cinta diseluruh semesta.

Katakanlah: "Jika bapak=bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiaannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rasul-Nya dan dari berjihad dijalan-Nya, mka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq." (Q.S. At-Taubah 24)

Marilah kembali menatap segala laku kita, apakah , apakah cinta kita telah berada pada tempat yang semestinya. Apakah dalam jiwa kita tersimpan rindu yang membara menanti perjumpaan dengan –Nya. Apakah hati kita memendam harap, gelisah, cemas dan takut tatkala bercermin diri, melihat segala amalan yang telah dilakukan selama ini. Mengharap diterimanya segala ibadah, dan cemas serta takut apabila amal ini tidak diterima-Nya.

Apakah cinta kita kepada-Nya begitu tulus, sehingga kita senantiasa mencintai apa yang Ia cintai dan membenci apa yang Ia benci. Apakah kita telah berbakti pada orang tua, karena Allah encintai seorang anak yang berbakti pada orang tuanya. Apakah kita rela berkorban menegakan kalimat-Nya dimuka bumi, menyerukan yang ma’ruf dan mencegah segala yang munkar, karena Allah mencintai hamba-Nya yang berjuang dijalan-Nya. Bulat tekad, tetapkan niat, wujudkan dalam sikap, Allah cinta kita tertinggi.

Islam tidak melarang sesuatu yang bergunabagi manusia, tetapi mengaturnya. Cintakasih dalam Islam mempunyai bagian-bagian yang berhubungan dengan sang Pencipta, mahkluk-Nya, pribadi-pribadi dan masyarakat. Tidakkah kita melihat bahwa Sang Pencipta memberikan sesuatu yang membawa keberkahan dan kebahagian bagi umat manusia.

"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman sangat cinta kepada Allah" (Q.S. Al Baqarah 165)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home